
Nama Ahmad bin Hanbal dikenal luas sebagai sosok yang teguh. Dalam sejarah, ia sering digambarkan sebagai imam yang tidak bergeser meski ditekan, tidak goyah meski disakiti. Namun ada sisi lain dari dirinya yang jarang dibicarakan: kerendahan hatinya dalam menyikapi kebenaran.
Suatu hari, Imam Ahmad ditanya tentang sebuah persoalan. Ia terdiam cukup lama. Orang-orang menunggu, menyangka ia sedang menyusun jawaban yang kuat. Namun ketika ia berbicara, ucapannya justru sederhana, “Aku tidak tahu.”
Sebagian orang terkejut. Bagaimana mungkin seorang imam besar berkata demikian, sementara murid-muridnya telah mencatat ribuan pendapat darinya?
Imam Ahmad memandang pertanyaan itu dengan hati-hati. Baginya, mengatakan “aku tidak tahu” bukanlah kekurangan ilmu, melainkan penjagaan terhadap kebenaran. Ia memahami bahwa jawaban yang tergesa-gesa, meski tampak meyakinkan, bisa lebih berbahaya daripada diam yang jujur.
Dalam banyak majelis, Imam Ahmad sering menegaskan bahwa seseorang tidak berhak merasa paling benar hanya karena ilmunya lebih luas atau pengikutnya lebih banyak. Ia berkata bahwa pendapat manusia selalu berada di antara kemungkinan benar dan salah, sementara kebenaran mutlak hanya milik Allah.
Dikisahkan pula, ketika ada muridnya yang menyampaikan pendapat fiqih dengan nada yakin dan keras, Imam Ahmad menegurnya dengan lembut. Ia tidak membantah isi pendapat itu terlebih dahulu, tetapi menegur caranya. Seolah ia ingin berkata: kebenaran yang dibawa dengan kesombongan sering kehilangan cahayanya.
Dalam perbedaan pendapat dengan ulama lain, Imam Ahmad tidak mudah mencela. Ia menyebut mereka dengan penuh hormat, bahkan ketika tidak sepakat. Ia memahami bahwa keluasan ilmu para ulama lahir dari kesungguhan yang sama, meski hasilnya berbeda.
Pernah pula ia berkata kepada muridnya,
“Jangan engkau menisbatkan pendapat ini kepadaku. Katakanlah: inilah yang sampai kepadaku.”
Kalimat itu menunjukkan betapa ia enggan menjadikan dirinya sebagai ukuran kebenaran. Ia tidak ingin murid-muridnya mengikuti nama, tetapi mengikuti dalil dan adab.
Bagi Imam Ahmad, kebenaran bukan sesuatu yang perlu dibela dengan suara keras, tetapi dengan kejujuran hati. Ia percaya bahwa Allah akan meninggikan kebenaran itu sendiri, tanpa perlu disertai rasa paling benar dari pembawanya.
Imam Ahmad mengajarkan bahwa orang yang paling dekat dengan kebenaran justru paling takut mengklaimnya. Ia berhati-hati dalam berkata, lapang dalam berbeda, dan siap mengakui keterbatasan dirinya.
Tidak merasa paling benar bukan berarti merelakan kebatilan. Ia justru tanda ketundukan kepada Allah, Sang Pemilik kebenaran. Sebab kebenaran tidak membutuhkan kesombongan untuk tetap tegak, tetapi membutuhkan hati yang jujur agar ia sampai dengan selamat.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa kerendahan hati bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedalaman iman. Bahwa orang yang benar-benar takut kepada Allah justru paling berhati-hati dalam berkata, paling siap mengakui keterbatasan, dan paling jauh dari merasa diri paling benar.
Suatu hari, Imam Ahmad ditanya tentang sebuah persoalan. Ia terdiam cukup lama. Orang-orang menunggu, menyangka ia sedang menyusun jawaban yang kuat. Namun ketika ia berbicara, ucapannya justru sederhana, “Aku tidak tahu.”
Sebagian orang terkejut. Bagaimana mungkin seorang imam besar berkata demikian, sementara murid-muridnya telah mencatat ribuan pendapat darinya?
Imam Ahmad memandang pertanyaan itu dengan hati-hati. Baginya, mengatakan “aku tidak tahu” bukanlah kekurangan ilmu, melainkan penjagaan terhadap kebenaran. Ia memahami bahwa jawaban yang tergesa-gesa, meski tampak meyakinkan, bisa lebih berbahaya daripada diam yang jujur.
Dalam banyak majelis, Imam Ahmad sering menegaskan bahwa seseorang tidak berhak merasa paling benar hanya karena ilmunya lebih luas atau pengikutnya lebih banyak. Ia berkata bahwa pendapat manusia selalu berada di antara kemungkinan benar dan salah, sementara kebenaran mutlak hanya milik Allah.
Dikisahkan pula, ketika ada muridnya yang menyampaikan pendapat fiqih dengan nada yakin dan keras, Imam Ahmad menegurnya dengan lembut. Ia tidak membantah isi pendapat itu terlebih dahulu, tetapi menegur caranya. Seolah ia ingin berkata: kebenaran yang dibawa dengan kesombongan sering kehilangan cahayanya.
Dalam perbedaan pendapat dengan ulama lain, Imam Ahmad tidak mudah mencela. Ia menyebut mereka dengan penuh hormat, bahkan ketika tidak sepakat. Ia memahami bahwa keluasan ilmu para ulama lahir dari kesungguhan yang sama, meski hasilnya berbeda.
Pernah pula ia berkata kepada muridnya,
“Jangan engkau menisbatkan pendapat ini kepadaku. Katakanlah: inilah yang sampai kepadaku.”
Kalimat itu menunjukkan betapa ia enggan menjadikan dirinya sebagai ukuran kebenaran. Ia tidak ingin murid-muridnya mengikuti nama, tetapi mengikuti dalil dan adab.
Bagi Imam Ahmad, kebenaran bukan sesuatu yang perlu dibela dengan suara keras, tetapi dengan kejujuran hati. Ia percaya bahwa Allah akan meninggikan kebenaran itu sendiri, tanpa perlu disertai rasa paling benar dari pembawanya.
Imam Ahmad mengajarkan bahwa orang yang paling dekat dengan kebenaran justru paling takut mengklaimnya. Ia berhati-hati dalam berkata, lapang dalam berbeda, dan siap mengakui keterbatasan dirinya.
Tidak merasa paling benar bukan berarti merelakan kebatilan. Ia justru tanda ketundukan kepada Allah, Sang Pemilik kebenaran. Sebab kebenaran tidak membutuhkan kesombongan untuk tetap tegak, tetapi membutuhkan hati yang jujur agar ia sampai dengan selamat.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa kerendahan hati bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedalaman iman. Bahwa orang yang benar-benar takut kepada Allah justru paling berhati-hati dalam berkata, paling siap mengakui keterbatasan, dan paling jauh dari merasa diri paling benar.
Dan barangkali, itulah pelajaran yang paling sulit:
semakin dekat seseorang dengan kebenaran, semakin ia sadar betapa luasnya kebenaran itu—dan betapa kecil dirinya di hadapannya. [Musa]
semakin dekat seseorang dengan kebenaran, semakin ia sadar betapa luasnya kebenaran itu—dan betapa kecil dirinya di hadapannya. [Musa]


0 Komentar