Sejarah kekhalifahan memberi pelajaran penting bahwa runtuhnya sebuah kekuasaan tidak selalu diawali oleh pemberontakan bersenjata atau serangan dari luar. Sering kali, kehancuran justru bermula dari dalam istana: ketika penguasa terlalu lama dikelilingi oleh loyalitas palsu yang tidak pernah berani mengoreksi.
Dalam banyak fase kekhalifahan, muncul sekelompok orang yang menjadikan kedekatan dengan singgasana sebagai mata pencaharian. Mereka bukan dikenal karena keberanian moral atau ketajaman analisis, melainkan karena kepiawaian menyesuaikan kata dengan kehendak penguasa. Kehadiran mereka bukan untuk memberi nasihat yang jujur, melainkan untuk menyediakan pembenaran tanpa koreksi atas setiap keputusan yang lahir dari atas.
Masalahnya bukan semata pada keberadaan mereka, melainkan pada dampak yang ditimbulkan. Kritik yang seharusnya menjadi penyeimbang kekuasaan dianggap sebagai ancaman. Nasihat yang lahir dari kejujuran dipersepsikan sebagai pembangkangan. Sebaliknya, suara-suara yang hanya ingin menyenangkan justru diberi ruang istimewa, seolah-olah itulah bentuk kesetiaan tertinggi. Dalam situasi seperti ini, penguasa perlahan kehilangan akses terhadap realitas umatnya sendiri.
Loyalis Palsu dalam Catatan Sejarah
Ada beberapa nama yang oleh sejarawan klasik sering disebut sebagai contoh “loyalis palsu” (untuk tidak mengatakan penjilat) yang hidup dari menyenangkan penguasa. Berikut ini akan disebutkan secara singkat.
1. Ahmad bin Abi Du’ad (meninggal 240 H)
Ia adalah qadhi al-qudhat (hakim agung) pada masa Khalifah al-Ma’mun hingga al-Watsiq dari Bani Abbasiyah. Namanya sering disebut karena perannya dalam mihnah (ujian ideologis tentang kemakhlukan Al-Qur’an).
Ahmad Bin Abi Du’ad dikenal sangat pandai menyelaraskan pandangan teologis dengan kehendak istana. Ia bukan sekadar pelaksana, tetapi pendorong kebijakan yang menekan para ulama yang berbeda pandangan. Dalam banyak riwayat, ia digambarkan lebih sibuk menjaga kesesuaian pemikiran penguasa daripada melindungi kebebasan ilmiah. Ketika kekuasaan berganti, pengaruhnya pun runtuh—meninggalkan reputasi yang terus diperdebatkan hingga kini.
2. Ibn al-Zayyat (meninggal 233 H)
Seorang wazir pada masa al-Mu’tashim dan al-Watsiq. Ia terkenal cerdas, fasih, dan sangat piawai merangkai kata di hadapan khalifah.
Namun kecerdasannya lebih sering digunakan untuk memperkuat keputusan istana, bukan menahannya. Ia dikenal keras terhadap lawan politik dan ulama yang tidak sejalan dengan arah kekuasaan. Sejarah mencatat ironi nasibnya: ia meninggal dengan cara tragis ketika kekuasaan beralih—seakan menjadi contoh bahwa kedekatan dengan singgasana tidak selalu berujung keselamatan.
3. Bishr al-Marisi (meninggal 218 H)
Seorang teolog yang dekat dengan lingkaran penguasa di masa awal Abbasiyah. Ia sering disebut sebagai figur yang rajin membingkai gagasan intelektual agar tampak sejalan dengan selera politik.
Meski memiliki kapasitas ilmu, ia dikritik oleh banyak ulama karena lebih memilih kedekatan dengan pengaruh daripada kehati-hatian ilmiah. Namanya sering muncul sebagai simbol bagaimana ilmu bisa kehilangan wibawa ketika terlalu sering dipertontonkan di hadapan kekuasaan.
4. Sebagian Penyair Istana
Bukan satu nama, melainkan satu golongan. Dalam berbagai masa kekhalifahan, ada penyair-penyair yang hidup dari sanjungan berlebihan kepada penguasa. Mereka menulis syair tentang keadilan yang tak selalu ada, kemenangan yang dibesar-besarkan, dan kebijaksanaan yang dilebihkan.
Sejarah mencatat bahwa banyak kebijakan keliru lahir bukan karena niat jahat, melainkan karena informasi yang telah disaring oleh para loyalis palsu ini demi kenyamanan istana. Laporan disederhanakan, kegagalan ditafsir ulang, dan penderitaan rakyat diperkecil agar tidak mengusik ketenangan penguasa. Kekuasaan pun berubah menjadi ruang gema: suara pemimpin dipantulkan kembali oleh lingkaran di sekitarnya, tanpa pernah diuji oleh kebenaran yang utuh.
Namun demikian, sejarah yang sama juga mencatat pengecualian penting. Umar bin Abdul Aziz adalah contoh pemimpin yang memahami bahaya kesetiaan yang dibangun di atas sanjungan. Ia justru mencurigai orang-orang yang selalu membenarkan keputusannya, dan memberi tempat kepada mereka yang berani menyampaikan nasihat pahit. Baginya, keadilan tidak lahir dari afirmasi kekuasaan yang tak kritis, melainkan dari keberanian mendengar suara yang tidak menyenangkan.
Tulisan ini bukan nostalgia sejarah, apalagi romantisasi masa lalu. Ia adalah peringatan yang relevan bagi setiap bentuk kekuasaan, di mana pun dan kapan pun. Selama loyalitas palsu lebih dihargai daripada integritas, selama kedekatan oportunistik lebih menentukan daripada kejujuran, maka kekuasaan—betapapun luhur nama dan simbolnya—akan berjalan menuju kelelahan moral.
Pada akhirnya, sebuah pemerintahan tidak diukur dari seberapa banyak ia dibenarkan, tetapi dari seberapa berani ia dikoreksi. Sebab pembenaran mungkin membuat kekuasaan terasa nyaman, tetapi hanya kritik yang jujur yang mampu menjaganya tetap waras. [musa]



0 Komentar