
Jihad adalah bagian dari Islam, tetapi Islam tidak pernah sesempit jihad. Ada kebaikan yang harus dihidupkan, ada kemungkaran yang harus dicegah, ada manusia yang harus dididik, dan ada hati yang harus didekatkan kepada Allah. Di sinilah amar ma’ruf nahi munkar menemukan kedudukannya sebagai salah satu wajah penting dakwah Islam.
Ada masa ketika dakwah tentang jihad terdengar sangat kuat. Semangat membela agama, keberanian, pengorbanan, dan perjuangan menjadi tema yang menggetarkan. Semangat untuk memperjuangkan kebenaran tentu bukan sesuatu yang buruk. Islam memang mengajarkan kesungguhan dalam menjalankan ketaatan dan membela kebenaran.
Namun ada pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah dakwah tentang jihad sudah berjalan seimbang dengan dakwah amar ma’ruf nahi munkar?
Sebab Islam tidak hanya membutuhkan orang-orang yang berani berbicara tentang perjuangan. Islam juga membutuhkan orang-orang yang setiap hari mengajak kepada kebaikan, memperbaiki akhlak, mencegah kemungkaran, menegakkan keadilan, mendamaikan manusia, dan menghadirkan manfaat di tengah masyarakat.
Allah berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)
Menariknya, ayat ini tidak hanya berbicara tentang mencegah kemungkaran. Allah terlebih dahulu menyebut يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ — menyeru kepada kebaikan, kemudian amar ma’ruf, lalu nahi munkar.
Seolah-olah ada pesan penting: masyarakat tidak cukup dibangun hanya dengan memberantas keburukan. Ia harus diisi dengan kebaikan.
Jihad Bukan Satu-satunya Wajah Perjuangan
Jihad sendiri memiliki makna yang luas: kesungguhan mengerahkan kemampuan dalam ketaatan kepada Allah. Ada perjuangan melawan hawa nafsu, menuntut ilmu, mendidik keluarga, berdakwah, menegakkan keadilan, dan berbagai bentuk perjuangan lain yang dibenarkan syariat.
Adapun jihad dalam pengertian peperangan memiliki aturan, syarat, tujuan, dan otoritas yang tidak boleh dilepaskan dari ketentuan syariat. Ia bukan wilayah yang dapat ditafsirkan secara serampangan oleh individu atau kelompok untuk membenarkan kekerasan.
Karena itu, membicarakan jihad tanpa ilmu, akhlak, keadilan, rahmat, dan amar ma’ruf nahi munkar dapat membuat wajah Islam terlihat timpang.
Islam bukan hanya mengajarkan bagaimana menghadapi musuh. Islam juga mengajarkan bagaimana memperlakukan orang tua, mendidik anak, berdagang dengan jujur, menjaga lisan, menolong yang lemah, mendamaikan orang yang berselisih, dan berlaku adil bahkan kepada orang yang kita tidak sukai.
Semua itu adalah bagian dari wajah dakwah Islam.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Membangun Sekaligus Mencegah
Perubahan masyarakat hampir selalu dimulai dari perubahan manusia. Dan perubahan manusia tidak cukup dilakukan dengan kecaman.
Orang yang belum shalat membutuhkan ajakan untuk mengenal Allah, bukan sekadar celaan. Orang yang terjerumus dalam maksiat membutuhkan jalan untuk kembali, bukan hanya label sebagai pendosa. Anak muda yang kehilangan arah membutuhkan ilmu, teladan, dan lingkungan yang baik.
Di sinilah amar ma’ruf nahi munkar menjadi penting.
Amar ma’ruf membangun. Nahi munkar mencegah kerusakan. Keduanya harus berjalan bersama.
Jika hanya amar ma’ruf tanpa nahi munkar, kita mungkin terlalu lunak terhadap kemungkaran. Sebaliknya, jika hanya nahi munkar tanpa amar ma’ruf, dakwah dapat berubah menjadi rangkaian teguran tanpa menawarkan jalan keluar.
Maka dakwah membutuhkan keseimbangan: mengajak sekaligus mencegah, membangun sekaligus memperingatkan, memberikan harapan sekaligus peringatan.
Semangat Jihad Harus Berjalan Bersama Hikmah
Kita membutuhkan semangat kesungguhan dalam memperjuangkan agama. Tetapi kesungguhan itu harus diarahkan melalui jalan yang benar.
Semangat tanpa ilmu dapat menjadi liar. Keberanian tanpa hikmah dapat menjadi kasar.
Amarah terhadap kemungkaran tanpa kemampuan mengendalikan diri bahkan dapat melahirkan kemungkaran baru.
Karena itu, semakin besar semangat seseorang dalam membela agama, semestinya semakin besar pula perhatiannya terhadap akhlak agama.
Ia harus semakin hati-hati dengan lisannya, semakin adil ketika menilai orang lain, semakin sabar menghadapi perbedaan, dan semakin lembut kepada orang yang sedang belajar.
Sebab tidak semestinya seseorang mengaku sedang memperjuangkan kebenaran, tetapi cara memperjuangkannya justru bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran.
Umat Terbaik Bukan Hanya yang Berani Melawan
Allah kembali menyebut amar ma’ruf nahi munkar ketika menggambarkan karakter umat terbaik:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Perhatikan kriterianya.
Menjadi umat terbaik bukan semata-mata karena keberanian, jumlah, atau kemampuan mengalahkan pihak lain. Ia terkait dengan iman dan tanggung jawab untuk menghadirkan kebaikan serta mencegah kemungkaran.
Maka ukuran kekuatan umat bukan hanya seberapa keras ia mampu melawan, tetapi juga seberapa banyak kebaikan yang mampu ia hadirkan.
Bukan hanya seberapa berani menghadapi musuh, tetapi juga seberapa kuat menahan diri agar tidak menjadi zalim.
Bukan hanya seberapa lantang meneriakkan kebenaran, tetapi juga seberapa indah akhlaknya ketika menyampaikan kebenaran.
Dakwah yang Menghidupkan
Dakwah yang baik memang boleh menggetarkan hati. Tetapi setelah hati bergetar, ia harus tahu ke mana harus melangkah.
Dakwah harus membuat manusia semakin dekat kepada Allah, semakin baik akhlaknya, semakin jujur pekerjaannya, semakin bertanggung jawab terhadap keluarga, semakin peduli kepada tetangga, dan semakin bermanfaat bagi masyarakat.
Karena itu, amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh dianggap sebagai tema yang kurang heroik dibandingkan jihad. Justru di sanalah pekerjaan dakwah yang panjang berlangsung: mendidik manusia untuk mencintai kebaikan, memperbaiki masyarakat sedikit demi sedikit, dan mengajak hati yang jauh agar kembali kepada Allah.
Pada akhirnya, QS. Ali ‘Imran ayat 104 mengingatkan bahwa pekerjaan umat ini jauh lebih luas daripada sekadar berbicara tentang konflik dan perlawanan.
Ada manusia yang harus dididik.
Ada akhlak yang harus diperbaiki.
Ada kemungkaran yang harus dicegah.
Ada kebaikan yang harus dihidupkan.
Dan ada hati yang harus dikenalkan kembali kepada Allah.
Maka jika jihad dipahami sebagai kesungguhan dalam memperjuangkan agama, amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu jalan penting untuk mewujudkan kesungguhan itu dalam kehidupan.
Sebab agama tidak hanya perlu dibela dengan suara yang lantang. Ia juga perlu dihadirkan melalui akhlak yang nyata.
Dakwah yang matang bukan hanya mengajarkan keberanian menghadapi keburukan, tetapi juga kesabaran membangun kebaikan; bukan hanya mengajarkan bagaimana melawan musuh, tetapi juga bagaimana melawan ego; bukan hanya membela agama, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang membuat orang lain mengenal keindahan agama.
Tegas terhadap kemungkaran, tetapi penuh hikmah dalam menghadapinya. Berani memperjuangkan kebenaran, tetapi tidak kehilangan rahmat ketika menyampaikannya. [musa]


0 Komentar