Ada sesuatu yang sering kita anggap kecil, tetapi pengaruhnya bisa panjang: perkataan.
Kita mungkin mengucapkan banyak hal setiap hari tanpa pernah memikirkan kembali apa yang telah keluar dari mulut. Keluhan ketika usaha sedang sepi, kalimat pesimis ketika menghadapi kesulitan, ucapan tentang buruknya keadaan, atau bahkan perkataan yang merendahkan diri sendiri. Semuanya terasa biasa karena hanya berupa kata-kata.
Padahal, kata-kata tidak selalu berhenti sebagai suara yang kemudian hilang di udara. Ia dapat menetap di dalam pikiran, membentuk cara kita memandang keadaan, lalu perlahan memengaruhi bagaimana kita bersikap dan bertindak.
Dalam Islam, perkara lisan bahkan mendapat perhatian yang sangat besar. Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa menjaga perkataan bukan sekadar persoalan sopan santun. Ia merupakan bagian dari iman.
Lalu, apa hubungannya dengan rezeki?
Hubungannya mungkin tidak sesederhana: berkata baik lalu uang datang. Islam tidak mengajarkan hubungan yang bersifat magis seperti itu. Rezeki tetap berada dalam ketetapan Allah dan diperoleh melalui berbagai sebab yang Allah kehendaki.
Namun, perkataan dapat memengaruhi banyak hal yang berkaitan dengan perjalanan rezeki.
Seseorang yang terus-menerus mengatakan, “Saya tidak mungkin berhasil,” lama-kelamaan bisa kehilangan keberanian untuk mencoba. Orang yang selalu berkata, “Tidak ada peluang,” mungkin menjadi kurang peka melihat kesempatan. Sebaliknya, orang yang membiasakan diri berkata, “Saya belum menemukan jalannya,” masih memiliki ruang untuk belajar, memperbaiki diri, dan mencoba kembali.
Perhatikan bedanya.
Keduanya sama-sama sedang menghadapi kesulitan. Tetapi kalimat yang digunakan menciptakan sikap yang berbeda.
Perkataan yang baik bukan berarti membohongi diri dengan mengatakan semuanya baik-baik saja. Kita boleh mengakui bahwa keadaan sedang sulit. Kita boleh mengatakan bahwa usaha sedang sepi, penghasilan sedang berkurang, atau hidup sedang penuh ujian.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai keluhan berubah menjadi keputusasaan, dan jangan sampai kesulitan membuat kita berburuk sangka kepada Allah.
Alih-alih berkata, “Saya memang tidak pernah beruntung,” mungkin lebih baik mengatakan, “Saat ini belum berhasil. Saya harus mencari cara yang lebih baik.”
Alih-alih berkata, “Rezeki saya sempit,” kita bisa mengatakan, “Semoga Allah melapangkan rezeki saya dan membimbing saya dalam ikhtiar.”
Kalimat-kalimat seperti ini bukan mantra untuk mendatangkan kekayaan. Ia adalah cara menjaga hati agar tetap memiliki harapan dan pikiran agar tetap mampu melihat jalan.
Ada hal lain yang tidak kalah penting: perkataan dapat memengaruhi hubungan kita dengan manusia.
Padahal, tidak sedikit rezeki yang Allah hadirkan melalui perantara manusia.
Kepercayaan seorang pelanggan, rekomendasi dari teman, bantuan seorang saudara, tawaran pekerjaan, kerja sama bisnis, atau seseorang yang memperkenalkan kita kepada peluang baru—semuanya bisa menjadi jalan datangnya rezeki.
Maka, lisan yang kasar, suka merendahkan, mudah mencela, gemar mengeluh, atau senang membicarakan keburukan orang lain dapat membuat hubungan perlahan rusak. Ketika kepercayaan hilang, pintu-pintu kebaikan yang sebelumnya terbuka pun bisa ikut tertutup.
Sebaliknya, perkataan yang jujur, santun, menghargai orang lain, dan membawa ketenangan dapat menumbuhkan kepercayaan.
Karena itu, menjaga lisan sebenarnya bukan hanya tentang apa yang kita hindari, tetapi juga tentang apa yang kita tumbuhkan.
Tumbuhkan ucapan syukur ketika mendapatkan sedikit.
Tumbuhkan harapan ketika keadaan sulit.
Tumbuhkan doa ketika jalan terasa buntu.
Tumbuhkan penghargaan ketika orang lain membantu.
Dan tumbuhkan kata-kata yang menguatkan ketika orang di sekitar kita sedang jatuh.
Barangkali rezeki tidak selalu bertambah karena sebuah kalimat yang kita ucapkan. Tetapi sebuah kalimat dapat membuat kita lebih sabar, lebih berani, lebih jernih berpikir, lebih dipercaya, dan lebih mudah menjaga hubungan. Semua itu adalah bagian dari sebab-sebab yang dapat mengantarkan seseorang kepada berbagai bentuk kebaikan.
Pada akhirnya, menjaga perkataan adalah latihan untuk menjaga hati.
Sebab lisan sering kali menjadi jendela dari apa yang tersimpan di dalam diri. Ketika hati dipenuhi keluhan, yang keluar mudah menjadi keluhan. Ketika hati dipenuhi syukur, ucapan pun cenderung membawa ketenangan.
Maka, sebelum sibuk mencari jalan rezeki yang lebih luas, tidak ada salahnya sesekali memeriksa jalan yang keluar dari mulut kita sendiri.
Sudahkah kita menggunakannya untuk bersyukur?
Sudahkah kita berhenti merendahkan diri sendiri?
Sudahkah kita berhenti mengutuk keadaan?
Sudahkah kita berhenti menyakiti orang lain dengan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu?
Sebab boleh jadi, memperbaiki rezeki bukan hanya tentang memperbaiki cara kita bekerja.
Bisa jadi, kita juga perlu memperbaiki cara kita berbicara ketika sedang bekerja, berusaha, gagal, dan menunggu.
Karena seorang mukmin tidak hanya belajar bagaimana mencari rezeki, tetapi juga belajar bagaimana menjaga dirinya selama menjemput rezeki yang telah Allah tetapkan.



0 Komentar