Taaruf berasal dari bahasa Arab artinya perkenalan. Istilah ini biasa
dipakai dalam pertemanan atau persahabatan. Istilah ini kemudian menyempit maknanya
menjadi sebuah usaha penjajakan untuk saling kenal mengenal di antara pria dan
wanita sebagai langkah menuju jenjang pernikahan dan mencari jodoh.
Dalam Islam, hubungan seks tidak boleh dilakukan kecuali menikah
dahulu. Karena itu taaruf merupakan langkah pertama menuju proses pernikahan yang menghalalkan pria dan wanita melakukan hubungan suami istri. Taaruf
merupakan antitesis atau lawannya pacaran. Jika pacaran pria dan wanita bebas
bisa berduaan kapan dan kemana saja padahal belum ada ikatan penikahan.
Pasangan yang sedang pacaran bisa jalan-jalan di mall, makan bareng di café,
nonton bioskop, berduaan di mobil, berboncengan di motor, dll.Pacaran merupakan pintu menuju perbuatan zina. Jika dua sejoli bukan mahram sedang berduaan, maka ketiganya ada syetan. Dia menggoda keduanya untuk berbuat semakin jauh sehingga terjadilah perzinahan. Dalam masa taaruf tidak ada perbuatan yang boleh dilakukan seperti halnya pacaran karena belum ada ikatan pernikahan.
Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan
hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom
wanita tersebut, karena setan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua”
(HR. Ahmad).
Pacaran adalah perbuatan saling mendekat pria dan wanita. Maka Allah
Swt. sudah memberi peringatan. “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu
sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. Al-Israa’ 32). Jika
mendekati saja dilarang, maka perbuatan itu lebih berbahaya lagi akibatnya.
Taaruf bersifat tertutup dan rahasia. Hanya pihak tertentu saja yang mengetahui
dengan siapa kita bertaaruf. Jika tidak saling cocok, maka tak ada yang tahu
kecuali satu dua orang saja yang biasanya membantu proses taaruf.
Sedangkan pacaran sifatnya terbuka dan diumbar. Siapapun bisa melihat
pasangan yang sedang berpacaran.
Dalam hal pelaksanaan taaruf melibatkan calon mempelai dengan wali atau
orangtua masing-masing. Sedang pacaran hanya memuaskan kedua sejoli saja.
Dalam taaruf, kedua sejoli tidak diperkenankan bertemu berdua tanpa
pendamping. Salah satu atau keduanya bisa melibatkan pendamping. Sekali lagi,
pacaran hanya melibatkan dua sejoli.
Dalam taaruf komunikasi dibatasi hanya seputar rencana pernikahan. Meski
tidak banyak komunikasi, maka kemantapan hati sepenuhnya disandarkan kepada Allah.
Karena Allah yang memberi kita pasangan.
Berbeda dengan pacaran, komunikasi kedua sejoli seringkali melewati batas. Pembahasannya bebas apapun yang disukai. Keduanya seringkali mengumbar rayuan gombal. Tidak jarang menggunakan bahasa yang mengundang nafsu birahi.
Taaruf punya batasan waktu. Prinsipnya lebih cepat lebih baik. Berbeda
dengan pacaran yang tidak jelas jangka waktunya. Bisa bulanan, kebanyakan
justru tahunan. Meskipun demikian belum tentu pasangan yang pacaran akhirnya
akan menikah. Malah banyak terjadi akhirnya berpisah dan menikah dengan orang
lain.
Demikian makna dari taaruf untuk dipahami agar tidak menggunakan lagi kata taaruf untuk perbuatan dua sejoli yang sedang pacaran.*
Demikian makna dari taaruf untuk dipahami agar tidak menggunakan lagi kata taaruf untuk perbuatan dua sejoli yang sedang pacaran.*


0 Komentar