Subscribe Us

header ads

Hikmah Kecerdasan dan Adab dalam Kisah Imam Abu Hanifah


Dalam khazanah keilmuan Islam, nama Imam Abu Hanifah dikenal bukan hanya sebagai seorang ahli fikih besar dan pendiri salah satu mazhab utama dalam Islam, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki kecerdasan, ketajaman berpikir, serta adab yang sangat tinggi. Banyak kisah sederhana yang dinisbatkan kepada beliau, namun mengandung pelajaran yang mendalam bagi kehidupan umat manusia. Ada satu kisah yang merupakan peristiwa singkat yang sarat makna tentang ilmu, akal sehat, dan penghormatan terhadap sesama.

Suatu hari, Imam Abu Hanifah diceritakan sedang duduk dengan posisi kaki terjulur. Dalam tradisi masyarakat Timur, terlebih dalam lingkungan keilmuan, posisi duduk semacam itu sering kali dianggap kurang sopan apabila di hadapan orang yang lebih tua atau berilmu. Ketika itu, datanglah seorang lelaki yang mengenakan sorban dan berpenampilan layaknya seorang syekh atau ulama. Melihat penampilannya, Abu Hanifah segera menarik kakinya dan duduk dengan lebih sopan. Sikap ini mencerminkan adab yang tinggi, yaitu menghormati seseorang berdasarkan apa yang tampak darinya, selama belum jelas keadaannya.

Perilaku ini menunjukkan bahwa Abu Hanifah bukan hanya seorang pemikir rasional, tetapi juga pribadi yang rendah hati. Beliau tidak tergesa-gesa merendahkan orang lain, bahkan kepada seseorang yang baru dikenal. Dalam Islam, adab sering kali didahulukan sebelum ilmu, karena ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan dan kerusakan. Maka, tindakan Abu Hanifah yang langsung memperbaiki sikap duduknya merupakan teladan nyata tentang pentingnya menjaga etika sosial.
Namun, kisah ini tidak berhenti pada adab semata. Ketika lelaki tersebut mendekat, ia mengajukan sebuah pertanyaan kepada Abu Hanifah: “Wahai Abu Hanifah, kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” Pertanyaan ini tampak sederhana dan merupakan pengetahuan dasar dalam ajaran Islam. Abu Hanifah pun menjawab dengan tenang dan jelas, “Ketika matahari tenggelam.” Jawaban ini sesuai dengan dalil dan telah diketahui secara umum oleh kaum muslimin.

Akan tetapi, lelaki itu kembali bertanya dengan pertanyaan yang terdengar aneh: “Bagaimana jika hingga pertengahan malam matahari tidak tenggelam?” Pertanyaan ini, dalam konteks realitas saat itu, menunjukkan ketidakpahaman terhadap hukum alam yang sederhana. Matahari pasti tenggelam setiap hari; jika tidak, maka tatanan waktu siang dan malam tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Mendengar pertanyaan tersebut, Abu Hanifah menyadari bahwa orang yang ia hormati sejak awal ternyata tidak memiliki pemahaman yang layak disebut sebagai orang berilmu.
Maka, Abu Hanifah pun berkata, “Kalau begitu, kini saatnya aku kembali menjulurkan kakiku.” Ungkapan ini bukan sekadar perubahan posisi duduk, melainkan sebuah simbol. Ia menandakan bahwa penghormatan diberikan berdasarkan ilmu dan akal, bukan semata-mata penampilan luar. Dalam catatan yang menyertai kisah ini dijelaskan bahwa Abu Hanifah berkata demikian karena ternyata orang tersebut bodoh, meskipun tampak seperti seorang alim.

Dari kisah singkat ini, terdapat beberapa pelajaran penting yang relevan sepanjang zaman. Pertama, penampilan tidak selalu mencerminkan kualitas ilmu. Sorban, pakaian agama, atau simbol-simbol kesalehan tidak otomatis menjadikan seseorang berilmu atau bijaksana. Islam sangat menekankan substansi dibandingkan formalitas. Ilmu sejati terlihat dari cara berpikir yang lurus, pertanyaan yang bermakna, dan pemahaman yang logis.

Kedua, kisah ini mengajarkan keseimbangan antara adab dan rasionalitas. Abu Hanifah tidak langsung bersikap meremehkan sejak awal. Ia tetap menghormati tamunya sampai jelas baginya bahwa penghormatan tersebut tidak lagi relevan. Ini menunjukkan bahwa adab tidak berarti menghilangkan akal kritis. Menghormati orang lain tidak sama dengan menerima semua ucapan mereka tanpa berpikir.
Ketiga, terdapat pelajaran tentang pentingnya menggunakan akal sehat dalam beragama. Pertanyaan tentang matahari yang tidak tenggelam hingga tengah malam menunjukkan cara berpikir yang tidak realistis. Islam tidak bertentangan dengan akal sehat; justru akal adalah salah satu alat utama untuk memahami wahyu. Para ulama besar seperti Abu Hanifah dikenal karena keberanian mereka menggunakan logika yang lurus dalam menetapkan hukum dan menjawab persoalan.
Keempat, kisah ini juga menjadi kritik halus terhadap fenomena otoritas palsu. Dalam masyarakat, sering kali orang dianggap pintar, alim, atau layak diikuti hanya karena atribut tertentu. Padahal, tanpa ilmu dan pemahaman yang benar, atribut tersebut tidak memiliki makna. Abu Hanifah dengan caranya sendiri menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang adalah ilmu dan akhlaknya, bukan sekadar penampilan.

Relevansi kisah ini sangat kuat dengan kondisi masa kini. Di era media sosial, siapa pun dapat tampil seolah-olah paling tahu, paling benar, dan paling religius. Namun, tidak sedikit yang sebenarnya miskin pemahaman dan gemar mengajukan atau menyebarkan gagasan yang tidak rasional. Kisah Abu Hanifah mengajarkan kita untuk tetap santun, tetapi juga cerdas dan kritis dalam menyikapi hal semacam ini.

Kisah di atas bukanlah cerita tentang kesombongan atau merendahkan orang lain. Sebaliknya, ia adalah kisah tentang keadilan dalam menempatkan penghormatan, tentang keseimbangan antara adab dan ilmu, serta tentang keberanian menggunakan akal sehat. Imam Abu Hanifah memberi teladan bahwa seorang berilmu sejati adalah mereka yang santun dalam sikap, tajam dalam berpikir, dan jujur dalam menilai. Nilai-nilai inilah yang seharusnya terus hidup dan diterapkan dalam kehidupan umat manusia hingga hari ini.

Posting Komentar

0 Komentar