Seusai shalat Jumat, seorang pemuda yang mengenakan gamis menghampiri seorang ustadz yang baru saja menjadi khatib sekaligus imam di sebuah masjid yang jamaahnya heterogen.
“Ustadz, izin menyampaikan sedikit masukan.”
“Silakan, Mas. Terima kasih sebelumnya.”
“Khutbah tadi bagus sekali. Isinya menggugah dan mudah dipahami. Saya pribadi sangat menikmatinya. Hanya saja, ada sedikit yang menurut saya kurang.”
“Oh begitu. Bagian mana, Mas?”
“Ketika ustadz menyampaikan beberapa hadits, mestinya disebutkan juga penilaian Syaikh Al-Albani. Apakah hadits itu shahih, dhaif, atau hasan. Supaya jamaah lebih yakin dengan derajat haditsnya.”
Sang ustadz tersenyum.
Ia terdiam sejenak, kemudian menanggapi,
“Saya menghargai masukan Mas dan tetap terbuka terhadap koreksi. Tetapi tadi saya berada dalam posisi sebagai khatib yang mendapat amanah untuk menyampaikan khutbah. Maka saya bertanggung jawab atas apa yang saya sampaikan.
Dalam hal sumber, ulama rujukan, dan metode memahami hadis, saya tentu mempunyai pertimbangan ilmiah sendiri. Mas boleh berbeda dan boleh menyampaikan pandangan, tetapi tidak berarti saya harus mengikuti seluruh cara pandang yang Mas yakini. Saya menghormati pendirian Mas, dan saya berharap pendirian saya juga dihormati.”
Pemuda itu terdiam sejenak, lalu mengangguk.
“Iya, Ustadz. Saya mengerti.”
“Terima kasih sudah menyampaikan dengan baik. Semoga kita sama-sama diberi keluasan hati dalam belajar.”
Keduanya kemudian bersalaman dan berpisah dengan baik.
“Saya menghargai masukan Mas dan tetap terbuka terhadap koreksi. Tetapi tadi saya berada dalam posisi sebagai khatib yang mendapat amanah untuk menyampaikan khutbah. Maka saya bertanggung jawab atas apa yang saya sampaikan.
Dalam hal sumber, ulama rujukan, dan metode memahami hadis, saya tentu mempunyai pertimbangan ilmiah sendiri. Mas boleh berbeda dan boleh menyampaikan pandangan, tetapi tidak berarti saya harus mengikuti seluruh cara pandang yang Mas yakini. Saya menghormati pendirian Mas, dan saya berharap pendirian saya juga dihormati.”
Pemuda itu terdiam sejenak, lalu mengangguk.
“Iya, Ustadz. Saya mengerti.”
“Terima kasih sudah menyampaikan dengan baik. Semoga kita sama-sama diberi keluasan hati dalam belajar.”
Keduanya kemudian bersalaman dan berpisah dengan baik.
-----------------
Dari percakapan sederhana di atas ada pelajaran yang penting.
Kita boleh memiliki guru, kitab, manhaj, dan ulama yang kita jadikan rujukan. Tetapi jangan sampai kecintaan kepada seorang ulama berubah menjadi keharusan bagi orang lain untuk mengikuti setiap pilihan beliau.
Dari percakapan sederhana di atas ada pelajaran yang penting.
Kita boleh memiliki guru, kitab, manhaj, dan ulama yang kita jadikan rujukan. Tetapi jangan sampai kecintaan kepada seorang ulama berubah menjadi keharusan bagi orang lain untuk mengikuti setiap pilihan beliau.
Al-Albani dan Kedudukannya dalam Kajian Hadits
Al-Albani adalah ulama yang banyak berjasa dalam penelitian hadits. Karya-karyanya layak dipelajari dan dimanfaatkan. Tetapi beliau juga bukan satu-satunya ulama yang pernah menilai hadits. Penilaian beliau tetap merupakan hasil penelitian seorang ulama yang bisa dikaji, dibandingkan, dan didiskusikan. Bahkan penelitian tentang metodologi beliau sendiri menunjukkan adanya perbedaan dengan sebagian pendekatan ulama terdahulu.
Karena itu, rasanya kurang tepat apabila seseorang menilai bahwa sebuah hadits baru layak disampaikan setelah ada tulisan “shahih menurut Al-Albani” di belakangnya.
Demikian pula sebaliknya. Tidak perlu menjatuhkan Al-Albani hanya karena kita tidak sepakat dengan sebagian penilaian beliau.
Ulama Tidak Hanya Satu
Belajar kepada ulama itu penting. Tetapi belajar juga berarti mengetahui bahwa ulama bukan hanya satu orang.
Ada ulama mutaqaddimin. Ada ulama muta'akhkhirin. Ada ulama yang hidup di zaman kita. Masing-masing memiliki keluasan ilmu, bidang kepakaran, metodologi, dan kontribusinya sendiri.
Maka Al-Albani sebaiknya ditempatkan pada tempat yang semestinya: dihormati, dipelajari, dan diambil manfaat dari karya-karyanya, tetapi tidak ditempatkan seolah-olah seluruh persoalan hadits harus berakhir pada penilaian beliau.
Jangan Memaksa Orang Memakai Kacamata Kita
Dan barangkali ini yang lebih penting. Jangan memaksa orang lain untuk memakai kacamata yang kita pakai. Sebab bisa jadi kita sedang melihat persoalan yang sama, tetapi dari sudut pandang yang berbeda.
Berbeda guru tidak harus bermusuhan. Berbeda rujukan tidak harus saling merendahkan. Berbeda afiliasi pun tidak lantas membuat seseorang kehilangan hak untuk dihormati.
Kita boleh meyakini pendapat kita dengan kuat. Tetapi tetap sisakan ruang dalam dada untuk kemungkinan bahwa orang lain memiliki pendapat yang lebih kuat.
Sebab semakin luas ilmu seseorang, semestinya semakin ia mengerti bahwa khazanah keilmuan Islam itu jauh lebih luas daripada apa yang ia pelajari sendiri. [musa]



0 Komentar