
Bentuk kesombongan yang sering tidak kita sadari adalah ketidakmauan menerima kebenaran ketika kebenaran itu tidak sesuai dengan keinginan, kedudukan, atau kelompok kita. Kesombongan bukan hanya ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain, tetapi juga ketika ia merasa terlalu tinggi untuk menerima nasihat, kritik, atau koreksi. Bahkan, penyakit ini bisa menjangkiti sebuah kelompok ketika loyalitas kepada kelompok membuat seseorang sulit mengakui kesalahan yang nyata. Padahal, seorang mukmin seharusnya lebih mencintai kebenaran daripada mempertahankan harga diri atau fanatisme kelompok.
Orang yang Merasa Sudah Cukup Berilmu
Kesombongan dalam menolak kebenaran tidak selalu lahir dari banyaknya ilmu. Pertama, ia dapat muncul ketika seseorang merasa sudah cukup mengetahui, sehingga tidak lagi merasa membutuhkan nasihat. Sedikit pengetahuan terkadang membuat seseorang merasa telah memahami banyak hal, lalu menutup ruang bagi koreksi dan ilmu dari orang lain. Padahal, semakin seseorang mencintai ilmu, semestinya semakin ia menyadari betapa luasnya perkara yang belum ia ketahui. Allah memuji orang-orang yang mau mendengarkan berbagai perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
“Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (QS. Az-Zumar: 18).
Ibn Katsir menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang memahami perkataan kemudian mengamalkan yang terbaik darinya; mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk dan memiliki akal yang sehat.
Orang yang Menolak Nasihat karena Meremehkan Pemberinya
Kedua, kesombongan dapat muncul pada orang yang memiliki ilmu ketika ia merasa lebih tinggi daripada orang yang menyampaikan nasihat. Nasihat ditolak karena datang dari orang yang dianggap tidak lebih alim, tidak lebih tinggi kedudukannya, berbeda lingkungan, atau tidak berada dalam lingkaran keilmuan yang sama. Akhirnya, yang diperhatikan bukan lagi kebenaran yang disampaikan, tetapi siapa yang menyampaikannya. Padahal, kebenaran tidak kehilangan nilainya hanya karena datang dari orang yang kita pandang lebih rendah. Nabi saw telah memberikan ukuran yang sangat tegas:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91).
Maka, ilmu seharusnya membuat seseorang semakin mudah tunduk kepada kebenaran, bukan semakin sulit menerimanya.
Orang yang Menyangkal Kesalahan ketika Ditegur
Ketiga, kesombongan dapat tampak ketika seseorang ditegur atas pelanggaran syariat, tetapi memilih denial, menyangkal daripada mengakui kesalahan. Al-Qur’an memang mengajarkan agar setiap berita diverifikasi terlebih dahulu:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu" (QS Al-Hujurat [5]:6).
Manakala teguran itu telah diverifikasi, memiliki dasar yang jelas, didukung fakta dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, maka menolak kebenaran semata-mata demi mempertahankan citra diri bukanlah sikap yang terpuji. Ketika suatu perkara telah jelas dan terbukti, terus-menerus menyangkal, mencari pembenaran, menyerang orang yang menegur, atau mengalihkan persoalan hanya demi mempertahankan citra justru dapat menjadi bentuk lain dari menolak kebenaran. Bahkan terkadang, di balik berbagai pembelaan yang disampaikan, seseorang sebenarnya mengetahui bahwa apa yang dilakukannya memang keliru.
Ketika Kesombongan Menjadi Fanatisme Kelompok
Yang perlu diingat, Sikap semacam ini tidak selalu berhenti pada individu. Ia bahkan dapat berkembang menjadi sikap kolektif ketika sebuah komunitas, lembaga, organisasi, atau partai merasa harus membela anggotanya setiap kali mendapat kritik, tanpa terlebih dahulu memeriksa apakah kritik tersebut benar. Membela seseorang karena ketidakadilan tentu merupakan sikap yang terpuji. Namun, membela kesalahan hanya karena pelakunya adalah bagian dari kelompok sendiri justru dapat menjauhkan kita dari keadilan. Sebab, loyalitas kepada kelompok tidak boleh mengalahkan loyalitas kepada kebenaran.
Tidak ada organisasi, lembaga, komunitas, atau kelompok manusia yang ma‘shum. Orang-orang di dalamnya tetap manusia yang dapat benar dan dapat keliru. Karena itu, ketika kesalahan seorang anggota telah terbukti, menerima koreksi dan memperbaikinya bukanlah bentuk merendahkan kelompok, melainkan bentuk menjaga kehormatannya. Kelompok yang sehat bukanlah kelompok yang tidak pernah dikritik, tetapi kelompok yang mampu menerima kebenaran sekalipun kebenaran itu datang dari luar lingkarannya. Orang yang mencintai kebenaran tidak sibuk mempertanyakan siapa yang menyampaikannya, tetapi bersedia memeriksa apa yang disampaikannya. Sebab, tanda hati yang sehat bukanlah tidak pernah ditegur, melainkan mampu menerima kebenaran ketika teguran itu memang benar. [musa]
FAQ
Apa yang dimaksud dengan sombong dalam Islam?
Dalam Islam, kesombongan mencakup sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw riwayat Muslim.
Apa hadits tentang menolak kebenaran?
Nabi saw bersabda: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91).
Apakah menolak kritik termasuk kesombongan?
Tidak setiap penolakan terhadap kritik otomatis merupakan kesombongan. Kritik perlu diperiksa kebenaran, fakta, dan argumentasinya. Namun, apabila seseorang menolak kebenaran yang sudah jelas semata-mata karena tidak ingin mengakui kesalahan, sikap tersebut dapat menjadi bentuk kesombongan.
Apakah membela kelompok termasuk fanatisme?
Membela kelompok dari tuduhan yang tidak benar bukanlah fanatisme tercela. Yang menjadi masalah adalah ketika loyalitas kepada kelompok membuat seseorang membela kesalahan setelah kesalahan tersebut terbukti.
Apa tanda orang yang mencintai kebenaran?
Salah satunya adalah kesediaan menerima koreksi setelah kebenaran suatu perkara menjadi jelas, tanpa menjadikan siapa yang menyampaikan kebenaran sebagai alasan untuk menolaknya.
0 Komentar