Ada kalimat yang maknanya baik, bahkan mengandung doa yang mulia, tetapi bisa terasa menyakitkan ketika diucapkan dengan cara dan dalam situasi yang tidak tepat. Salah satunya adalah Allahu yahdik, yang berarti “Semoga Allah memberimu petunjuk.”
Kalimat ini sebenarnya tidak bermasalah. Justru, mendoakan orang lain agar mendapat petunjuk merupakan bentuk kepedulian yang baik. Namun, ketika digunakan secara tidak tepat dalam perdebatan, terutama ketika menyangkut perbedaan manhaj atau pandangan, kalimat ini bisa kehilangan makna tulusnya.
Kita mungkin pernah menjumpai seseorang yang mengucapkan Allahu yahdik di akhir perdebatan, tetapi nada dan konteksnya justru menyiratkan sesuatu yang berbeda. Seolah-olah ia sedang mengatakan, “Kamu belum paham, kamu berada di jalan yang salah, sedangkan saya sudah benar.”
Di sinilah persoalannya. Doa yang seharusnya menjadi ungkapan kasih sayang berubah menjadi sindiran. Bahkan, tidak jarang digunakan sebagai cara halus untuk merendahkan orang lain tanpa harus melontarkan kata-kata kasar.
Ketika Merasa Paling Benar
Perbedaan pendapat dalam persoalan agama bukanlah hal baru. Para ulama pun memiliki perbedaan pandangan dalam sejumlah masalah. Karena itu, perbedaan semestinya tidak membuat kita kehilangan adab dalam menyampaikan kebenaran.Masalahnya, ketika seseorang terlalu yakin bahwa dirinya berada di pihak yang benar, ia bisa lupa bahwa orang yang berbeda pandangan dengannya juga memiliki perasaan dan kehormatan yang harus dijaga.
Ucapan Allahu yahdik akhirnya bukan lagi tentang harapan agar orang lain mendapat petunjuk, melainkan menjadi semacam penegasan bahwa lawan bicaranya dianggap belum mendapat petunjuk, sementara dirinya merasa sudah berada di jalan yang benar.
Padahal, merasa yakin terhadap pendapat sendiri tidak berarti kita berhak merendahkan orang lain. Kebenaran yang kita yakini seharusnya membuat kita semakin berhati-hati dalam bersikap, bukan semakin mudah menghakimi.
Dakwah Bukan Sekadar Soal Apa yang Diucapkan
Dalam berdakwah, bukan hanya isi perkataan yang perlu diperhatikan, tetapi juga cara menyampaikannya. Kalimat yang baik bisa kehilangan keindahannya ketika digunakan untuk menyindir, mempermalukan, atau menjatuhkan orang lain.Bayangkan seseorang yang sedang berbeda pendapat dengan kita. Jika di akhir perdebatan ia justru merasa dihina, apakah yang akan membekas dalam ingatannya adalah kebaikan pesan yang kita sampaikan, atau rasa sakit akibat cara kita memperlakukannya?
Tentu, kita tidak bisa menjamin bahwa setiap nasihat akan diterima dengan baik. Namun, setidaknya kita tidak perlu menambah penghalang dengan sikap yang merendahkan.
Allah berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan sesuatu yang kita anggap benar. Ada hikmah, kelembutan, dan adab yang harus menyertainya.
Kalau Memang Mendoakan, Mengapa Harus Menyindir?
Tentu, tidak ada keharusan untuk menyembunyikan setiap doa bagi orang lain. Mendoakan seseorang secara langsung pun tidak selalu salah. Dalam keadaan tertentu, ucapan Allahu yahdik bisa menjadi ungkapan yang tulus dan tepat.Namun, ada baiknya kita sesekali memeriksa hati sendiri: ketika mengucapkan kalimat itu, apakah kita benar-benar berharap orang tersebut mendapat petunjuk, atau sebenarnya kita sedang melampiaskan kekesalan dengan cara yang terdengar religius?
Jika memang tulus mendoakan, doakanlah dengan sungguh-sungguh. Bahkan, mendoakannya dalam kesendirian tanpa perlu diketahui orang tersebut bisa menjadi salah satu cara menjaga keikhlasan. Tidak perlu menjadikannya tontonan, apalagi alat untuk memenangkan perdebatan.
Sebab, hidayah bukan milik kelompok tertentu. Kita semua membutuhkannya, termasuk mereka yang merasa sudah berada di jalan yang benar.
Pada akhirnya, yang perlu kita jaga bukan hanya lisan dari kata-kata kasar, tetapi juga hati agar tidak menggunakan kalimat yang baik untuk tujuan yang buruk.
Jangan sampai kita begitu bersemangat mengingatkan orang lain tentang petunjuk Allah, tetapi lupa bahwa diri sendiri pun masih membutuhkannya.
Sebab, dakwah yang baik bukan hanya berusaha menunjukkan jalan yang benar, melainkan juga menjaga agar cara kita mengajak orang lain tidak justru membuat mereka semakin menjauh. [musa]



0 Komentar