Salah satu tanda kesombongan yang sering tidak kita sadari adalah ketidakmauan menerima kebenaran ketika kebenaran itu tidak sesuai dengan keinginan, kedudukan, atau kelompok kita. Kesombongan bukan hanya ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain, tetapi juga ketika ia merasa terlalu tinggi untuk menerima nasihat, kritik, atau koreksi. Bahkan, penyakit ini bisa menjangkiti sebuah kelompok ketika loyalitas kepada kelompok membuat seseorang sulit mengakui kesalahan yang nyata. Padahal, seorang mukmin seharusnya lebih mencintai kebenaran daripada mempertahankan harga diri atau fanatisme kelompok.
Kesombongan dalam menolak kebenaran setidaknya memiliki dua bentuk. Pertama, menolak kebenaran ilmu karena siapa yang menyampaikannya. Seseorang menolak nasihat atau ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah hanya karena yang menyampaikannya dianggap lebih rendah, tidak lebih alim, tidak lebih mulia, atau tidak berasal dari kelompok dan majelisnya. Padahal, ukuran kebenaran bukanlah siapa yang menyampaikannya, tetapi apakah ia sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Nabi saw bersabda:
الْÙƒِبْرُ بَØ·َرُ الْØَÙ‚ِّ ÙˆَغَÙ…ْØ·ُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91).
Kedua, menolak kebenaran ketika dikoreksi atas kesalahan. Seseorang melakukan kemungkaran atau pelanggaran syariat, kemudian ketika dinasihati berdasarkan fakta, saksinya ada, bukti visualnya ada, ia melakukan denial, mencari pembenaran, bahkan menyerang orang yang mengkritiknya, padahal dalam dirinya ia mengetahui bahwa kesalahan itu memang terjadi.
Penyakit ini bahkan dapat berubah menjadi kesombongan kolektif: organisasi, lembaga, komunitas, atau partai bereaksi berlebihan ketika kesalahan anggotanya dikritik oleh pihak yang berbeda afiliasi. Padahal, membela kehormatan kelompok tidak berarti membela kesalahan anggotanya. Jika kesalahan terbukti, sikap yang benar adalah mengakuinya dan memperbaikinya.
Ingat, tidak ada organisasi, lembaga, komunitas, atau partai yang anggotanya ma‘shum. Mereka hanyalah kumpulan manusia yang bisa benar dan bisa salah. Karena itu, kritik yang benar semestinya menjadi cermin untuk melakukan perbaikan, bukan alasan untuk marah dan menutup diri. Sebab, mencintai kebenaran berarti siap menerimanya meskipun datang dari orang yang tidak kita sukai; sedangkan kesombongan adalah ketika kita lebih sibuk mempertahankan siapa yang salah daripada mencari apa yang benar. [musa]



0 Komentar